Friday, 19 June 2015

Cerpenku 3

H A L U S I N  A S I    S E N D U
Karya: Edsu B. Katori

Pagi itu sinar matahari terasa begitu hangat. Semilir angin khas musim kemarau hilir mudik menerpa apa saja, menghadirkan kesejukan tersendiri bagi setiap mahluk. Suara kicau burung yang bersautan di ranting-ranting ketapang yang ada di depan dan samping rumah, terdengar begitu harmonis, berpadu dengan derit-derit bambu yang bergoyang-goyang diterpa angin.
Namun berbagai kenyamanan yang tersuguh pada pagi yang cerah itu seolah tak mampu memberi arti bagiku. Langkahku justru gontai ketika aku diminta masuk ke ruang keluarga, tempat ibu dibaringkan sepulang dari rumah sakit.
Di ruang itulah, sekilas aku melihat ada beberapa tetangga dekatku yang berdiri. Semuanya tertunduk dan terisak. Di sekeliling ranjang, tampak bapak, kakak semata wayangku, dan saudara dekat ibu yang sedang berusaha memandu ibu mengucapkan kalimat takbir dan syahadat.
Sementara di atas ranjang sederhana yang biasa kami gunakan untuk menonton televisi, aku melihat ibu terbaring dengan pandangan mata yang kosong dan bibir yang bergetar-getar. Hatiku merintih, “Begitukah rupa orang yang akan meninggal?”
Maka dengan tubuh bergetar, aku berusaha untuk meminta maaf pada ibu sebelum ia benar-benar pergi. Ingin sekali lisanku berucap, memohon maaf atas semua tingkah nakal yang pernah kuperbuat. Ingin sekali bibirku yang terkatup, bisa mengungkapan sebaris kata-kata penyesalan atas segala kekurangajaran yang telah kulakukan padanya.
Namun setelah meraih tangan ibu yang mulai terasa dingin, tak ada sepatah kata pun yang mampu kuucap. Lidahku terasa kelu. Bibirku hanya mampu bergetar karena terus menahan tangis. Aku tak kuasa menyaksikan pemandangan itu. Karena untuk pertama kalinya, aku melihat secara langsung detik-detik yang mungkin akan menjadi akhir dari kehidupan seorang manusia.
Dan yang membuat batinnya begitu terhenyak, manusia itu tidak lain yaitu ibu kandungku sendiri, orang nomor satu yang paling berharga dalam kehidupanku. Maka dengan terus berusaha menahan isak tangis, kutempelkan keningku di tangan ibu dengan hati yang kian merintih, “Ibu, maafkan aku!”
Itulah sebaris kata yang benar-benar keluar dari hatiku meski tak mampu terucap. Karena sungguh, tak mampu lagi bagiku melihat rupa ibu yang sedang berjuang menghadapi saat-saat terakhir dalam hidupnya.
Maka, sesegera mungkin aku berdiri sebisaku. Dan dengan air mata yang masih berlinang, kulangkahkan kakiku yang kian bergetar, kembali menuju ke ruang tamu.
Angin yang sebenarnya berembus keluar masuk dari jendela ruang tamu, seketika seolah berhenti. Suara para kerabat dan tetangga yang terus melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, tiba-tiba seperti tak lagi dapat kudengar. Kaki yang semula masih agak kuat menopang berat badan, seakan menjadi nyata tak bertulang. Tubuhku benar-benar terasa sangat lemas.
Namun di tengah kesadaran yang kian melemah, aku masih bisa merasakan ada seseorang yang menyangga tubuhku. Seseorang yang kemudian kukenali sebagai bibiku itu, memapahku sampai aku merasa terduduk di atas sofa ruang tamu.
Berulang kali ia membisiki telingaku, menyuruhku ber-istighfar, berserah diri, dan berusaha menerima takdir dengan ikhlas. Namun setelah itu, sebelum aku benar-benar mampu mengucapkan kata-kata seperti yang ia contohkan, aku merasa dunia kala itu begitu gelap. Napasku seperti tercekat. Aku tak sadarkan diri.
¯¯¯
Aku seperti berada di tempat lain. Di situ, aku melihat ibu tak lagi menderita sakit. Malah, ia terlihat begitu segar dengan busana putih yang menjadi seragam yasinan ibu-ibu di kampungku. Namun aneh, aku sama sekali tak mampu berucap sepatah kata pun ketika ibu berpamitan untuk pergi. Malah tak seperti biasa, ibu pergi dengan senyum yang mengembang, sembari berpesan agar aku tak menunggu.
“Ibu nanti lama. Tempat tujuan ibu jauh. Kamu ndak usah nunggu. Kamu di rumah aja, jaga bapak.”
Aku tak mengangguk, tak pula menggeleng. Aku tak mampu memberi reaksi apa pun. Lidahku seperti kelu. Badanku terasa kaku. Padahal dalam hati, aku menjerit.  Aku tahu, maksud ibu mengatakan tempat tujuan yang jauh, yaitu pertanda bahwa ibu akan pergi untuk selama-lamanya. Aku pun tahu, arti senyum ibu yang mengembang, yaitu pertanda bahwa ia tiada berat hati meninggalkan segala yang ada di dunia ini.
Namun satu hal yang membuatku bertanya-tanya, yaitu pesan ibu agar aku menjaga bapak. Mengapa justru aku yang harus menjaga? Bukankah aku yang akan merasa sangat kehilangan jika ibu tiada sehingga akulah yang seharusnya dijaga? Terlebih, akulah si bungsu kolokan yang jelas-jelas begitu dekat dengan ibu. Ah, betapa tak mengerti aku dengan pesan itu.
Belum reda rasa bingung yang menyergapku, tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari dalam rumah. Suara itu seperti suara orang sedang memalu sesuatu dengan pukulan yang sangat keras. Seketika, aku pun berusaha melihat ke dalam rumah. Aneh, tubuh yang semula kaku, tiba-tiba begitu mudah kugerakkan hingga aku berada di ruang makan. Dari situ, aku melihat kakak perempuanku sedang memaku pintu kamar mandi. Tak hanya itu, ia pun memasang palang dari atas sampai bawah agar pintu kamar mandi benar-benar tidak bisa dibuka.
Kucoba langkahkan kaki untuk mendekat, namun tubuhku kembali kaku. Ingin aku berteriak untuk menghentikan perbuatan kakakku, namun sama seperti sebelumnya, lidahku kembali kelu. Aku benar-benar tidak paham. Mengapa ini bisa terjadi padaku?  Akhirnya, aku hanya bisa merintih memanggil-manggil kakakku.
¯¯¯
Lamat-lamat aku mendengar suara bibi. Meski sudah mulai bisa membuka mata kembali, aku masih belum mampu memberi respons apa pun pada ucapannya. Sekujur tubuhku masih terasa sangat lemas. Padahal setelah kesadaranku berangsur membaik, ingin sekali aku langsung mendatangi ibu, memastikan kondisinya yang kulihat berbeda dalam halusinasi ketidaksadaranku.
Namun baru saja aku berusaha menoleh ke arah pintu yang menuju ruang tengah, aku melihat sesosok tubuh terbalut kain putih, yang dibaringkan di atas ranjang kecil, tepat di tengah ruang tamu. Seketika, tenggorokanku seperti tercekat. Jantungku berdebar begitu kencang. Badanku kembali bergetar hebat. Air mataku menetes deras. Dan bibirku merintih memanggil-manggil ibu.
“Sabar, nduk! Yang ikhlas! Ibumu sudah tenang di alamnya sana. Kalau kamu masih belum ikhlas, nanti ibumu juga merasa berat di sananya. Ayo istighfar, nduk! Astaghfirulla…h al azi…m! Astaghfirulla…h al azi…m!”
Mendengar itu, aku tak mampu lagi menguasai diriku. Aku hanya bisa merasa tubuhku begitu lemas. Aku tak lagi mampu mengeluarkan suara tangis. Hanya air mata yang kurasa mengalir begitu derasnya.
Duhai, kiranya nyanyian kematian telah menggema, menghentak rumah kecilku, memutus jalinan cinta suci ibu dan bapak, serta mengubur tempatku bermanja dan mengadu. Kini tiada lagi semua itu. Hanya kenanganlah yang akan tersisa.
Kematian. Kata itu pulalah yang mengakhiri setiap kisah hidup manusia di dunia, menjadi sesuatu yang pasti terjadi dengan apa pun yang menjadi penyebabnya. Sehingga, tak ada sejengkal pun tempat yang bisa dijadikan sebagai pelindung dari kedatangannya. Karena memang itulah ketetapan Ilahi, segala mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.
¯¯¯
Rumah ini tampak masih seperti yang dulu, seperti ketika aku sama sekali belum mengenal kehidupan dunia, atau pun seperti ketika aku sedang tumbuh menikmati masa kecil. Namun halaman dan pekarangan yang dulu menjadi hutan kecil di depan rumah, kini sama sekali tak berbekas.
Tak ada lagi pagar hidup yang mengelillingi halaman rumah. Tak ada lagi dua pohon nangka kesayangan. Tak ada lagi lima pohon kelapa perkasa yang dulu menjulang bak tangga yang menuju ke langit. Tak ada lagi dua pohon pinang yang pelepah keringnya dulu selalu kumainkan menjadi kereta seret bersama teman-teman kecilku.
Tak ada lagi rindang tiga pohon ketapang dengan batang dan ranting yang lurus memanjang. Tak ada lagi barisan tanaman katu yang daun-daunnya acap kali menjadi bahan sayur bening ibu, atau pun para tetangga yang tak sungkan lagi saling meminta dan berbagi. Dan di tepi jalan masuk, pun tak ada lagi lebat pohon ceri yang buah merahnya kerap membuatku berseri-seri.
Hutan kecil itu telah berubah menjadi dua lajur lapak besar, sisa-sisa usaha bapak merintis bisnis kayu yang akhirnya berujung pada kebangkrutan. Bahkan ibarat bunga yang layu sebelum berkembang, usaha bapak bangkrut sebelum sempat berjalan stabil. Modal usaha itu pun habis di tengah jalan. Padahal, modal usaha itu berasal dari sisa hasil penjualan sepetak sawah yang terakhir.
Faktor utama penyebabnya yaitu ketidakstabilan mental bapak. Karena sejak ibu meninggal, bapak seperti kehilangan gairah hidup yang dulu terang menyala bak matahari yang mampu menularkan nyala itu kepada bulan atau pun benda-benda langit yang lain.
Diawali pada pekan kedua setelah ibunya meninggal, bapak kerap terlihat menyendiri di teras rumah pada tengah malam. Dengan pandangan mata yang kosong, bapak berusaha menyenandungkan lagu-lagu pilu sedapatnya, yang dikiranya bisa mengobati rasa kehilangan yang menancap di relung-relung jiwanya yang sepi. Seperti itulah yang terjadi setiap malam. Dan biasanya, bapak baru bergegas ke dalam rumah ketika suara ayam terdengar saling bersautan.
Kini, setelah kebangkrutan usahanya, bapak justru makin terpuruk. Aku dan kakakku kerap melihatnya berdialog dengan baju-baju ibu di dalam kamar. Baju-baju itu ia susun di atas tempat tidur, satu per satu tiap harinya.
Dari itulah, aku mulai paham dengan makna pesan ibu. Ternyata benar, bapaklah yang mengalami ketidaksiapan psikis sehingga harus dijaga. Tapi dengan cara apa aku harus menjaga bapak? Lalu, apa makna tindakan kakak menutup pintu kamar mandi dalam halusinasiku kala itu?
Dalam kondisi bingung, kusampaikan kronologi halusinasi itu pada kakak. Kakak pun tak tinggal diam. Sore itu, ketika bapak pergi ke makam ibu, tanpa seizin bapak, kakak memaku pintu kamar bapak dan ibu dari luar. Tak hanya itu, ia pun memasang palang dari atas sampai bawah agar pintu itu benar-benar tidak bisa dibuka.
Aku tahu maksud kakak. Ia berusaha membatasi bapak dari hal-hal yang berhubungan dengan ibu agar bapak bisa seutuhnya melupakan ibu. Yah, benar. Mungkin itu makna halusinasiku kala itu. Sedikit kejam, memang. Namun dengan cara seperti itulah, semoga bapak bisa berubah. Lagi pula, masih ada ranjang di ruang tengah yang bisa dipakai sebagai tempat tidur bapak.
¯¯¯
Aku terbangun dari tidurku. Pagi ini terasa begitu dingin. Kandung kemihku terasa penuh. Tak tahan lagi rasanya, harus segera dikeluarkan. Kulihat jam dinding. Pukul empat pagi, lima belas menit sebelum azan subuh berkumandang.
Dengan kesadaran seadanya, kucoba langkahkan kaki, seperti zombi. Kubuka pintu kamar, ranjang di ruang tengah terlihat kosong. Bapak tidak ada. Ah, mungkin tidur di sofa ruang tamu. Semalam aku memang tidur cepat, tak sempat menunggu bapak pulang dari makam.
Kususuri rumahku dengan mata yang terasa berat kubuka. Kutekan saklar di ruang makan untuk menyalakan lampu di kamar mandi. Dengan langkah yang masih gontai, kubuka pintu kamar mandi dengan perlahan.
Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku, pemandangan yang seketika mampu menghilangkan rasa kantukku menjadi tak berbekas sama sekali, pemandangan yang membuat jantungku seperti tercabut dari tempatnya, pemandangan yang membuatku ingin berteriak sekuat-kuatnya, membuat jiwaku meronta sejadi-jadinya. Tepat di depanku, aku melihat tubuh bapak tergantung kaku.

¯¯¯