Wednesday, 20 January 2016

Kritik Sastra (Kritik Ilmiah)

PSIKOLOGIS TOKOH BAPAK DALAM CERPEN "HALUSINASI SENDU"


A.   Pendahuluan
Nama Edsu B. Katori di dunia sastra Indonesia memang tidak pernah terdengar. Ia hanyalah cerpenis dunia maya. Karyanya hanya ia muat dalam blog pribadinya. Meski demikian, sebagai orang yang menghargai karya sastra, kritikus tidak melihat orang yang membuat, melainkan karya yang dibuat. Dengan kata lain, cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori yang berjenis cerita tragedi, memiliki unsur kuat untuk diberi “penilaian” dalam format kritik sastra, terutama jika dilihat dari sisi psikologi sastra.
Karena sejalan dengan pendapat Ratna (2004: 350) tentang psikologi sastra, dapat diketahui bahwa tiap individu tokoh memiliki gejolak batin yang berbeda. Gejolak batin yang dimaksud, terdiri atas kebaikan dan keburukan. Kebaikan merupakan pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang dilakukan seorang tokoh yang sejalan dengan konvensi dalam masyarakat. Sebaliknya, keburukan mencakup pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang dilakukan seorang tokoh yang bertentangan dengan konvensi yang berlaku dalam masyarakat. Kedua hal tersebut (kebaikan atau pun keburukan), terjadi karena dalam diri tokoh terdapat sebuah keinginan yang mendorong untuk mewujudkannya.
Ketika seorang tokoh memiliki keinginan yang sangat kuat, lalu keinginan tersebut tidak terwujud karena sebab tertentu, tokoh tersebut cenderung akan mengalami gangguan kejiwaan yang kemudian terepresentasikan dalam sikap yang buruk. Hal itulah yang tercermin dari cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori. Dalam cerpen tersebut, terdapat tokoh Bapak yang mengalami kekacauan jiwa setelah kematian istrinya. Hingga pada akhirnya, tokoh Bapak memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar mandi. Dalam cerpen ini, Edsu B. Katori berusaha menyuguhkan sebuah tragedi kehidupan yang mengharukan.
Berkaitan dengan hal itu, kritikus merasa tertarik untuk memberikan kritik sastra terhadap cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori, terutama dari sisi psikologis salah satu tokohnya, yaitu tokoh Bapak. Kritikus akan megaitkan fenomena gejolak kejiwaan tokoh Bapak dengan konsep id, ego, dan superego Sigmund Freud.

B.    Kajian Teori
Freud membagi pikiran menjadi alam sadar dan bawah sadar. Kemudian, ia mengajukan topografi ego (pikiran sadar), superego (nurani), dan id (pikiran bawah sadar) (Ryan, 2011: 131). Hal tersebut menggambarkan bahwa manusia berpikir dalam keaadaan sadar atau dalam keadaan tidak sadar. Hal ini berarti setiap orang yang tidur, mereka tetap melakukan aktivitas berpikir. Selain pikiran sadar dan bawah sadar, Freud juga mengungkap dalam diri manusia ada mekanisme kontrol yang mengatur pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia.
Topografi id, ego, dan superego juga ditunjukkan kutipan sebagai berikut:
The id is the reservoir of libido, the primary source of all psychic energy. it functions to fulfill the primordial life principle, which Freud considers to be the pleasure principle. In view of the id's dangerous potentialities, it is necessary that other psychic agencies protect the individual and society. the first of these regulating agencies, that which protects the individual, is the ego.the other regulating agent, that which primarily functions to protect society is the superego (Guerin, 2005: 156-157).
Id dianggap sebagai penampung libido yang merupakan sumber segala energi kejiwaan seseorang yang merupakan prinsip dasar dalam kehidupan seseorang. Id dianggap berbahaya, sehingga superego berfungsi dalam diri manusia untuk mengatakan “jangan”. Id menyebabkan seseorang melakukan hal-hal yang buruk-buruk, sedangkan superego menjadi pengatur agar id tidak menjadi liar berdasarkan norma-norma di masyarakat. Namun, id dan superego selalu bergesekan sehingga kadang seseorang lebih kuat id-nya daripada superego, begitu juga sebaliknya. Jika id yang lebih dominan, seseorang akan menjadi penjahat, sedangkan jika superego lebih dominan menyebabkan seseorang menjadi penakut. Dari kedua hal itu, maka diperlukan pengatur lain yang disebut ego. Ego merupakan kesadaran diri untuk mengatakan tidak atau jangan untuk melindungi diri dari dorongan-dorongan yang melampaui batas. Ego dalam psikoanalisis bukanlah sifat egoistis. Ego berfungsi sebagai penyeimbang bagi id dan superego yang ada dalam diri manusia agar manusia menjadi baik.
Gambaran mengenai id, ego, dan superego juga tergambar dalam kutipan sebagai berikut:
Quite late in his life, indeed, influenced by the ambiguity of the term 'unconscious' and its many conflicting uses, he proposed a new structural account of the mind in which  the uncoordinated instinctual trends were called the 'id', the organized realistic part the 'ego', and the  critical and moralizing function the 'super-ego', a new account which has certainly made for clarification of many issues (Freud, 1981: 21).
Dari kutipan tersebut, Freud dipengaruhi oleh keambiguitasan istilah “ketidaksadaran” dan konflik dari penggunaannya. Freud mengusulkan kebaruan struktural dalam pikiran manusia. Kebaruan struktural pikiran manusia itu terdiri atas insting yang tidak terkontrol disebut id, fungsi kritik dan fungsi moral sebagai superego, dan pengatur dari realitas yang ada disebut ego. Hal ini dapat dimaknai bahwa manusia bisa menjadi baik jika ketiga hal tersebut dapat bekerja secara seimbang. Id memunculkan gairah hidup, superego sebagai pengatur gairah manusia sehingga tidak melampaui batas kewajaran, sedangkan ego sebagai penyeimbang id dan superego dan memastikan id dan superego sejalan untuk mencapai tujuan yang baik dalam kehidupan manusia.
Pemikiran Freud juga tampak dalam kutipan sebagai berikut:
His concern and his lifelong preoccupation was as much with mystical domain of the soul as any theologian's or with doctor's. But the map of the psyche which he drew made no provision for the soul. And while he charted a whole series of newfoundlands to take the place of the old country--the 'id', the 'super-ego', 'the unconscious mind', and so on (Puner, 1961: 212).
Dalam kutipan tersebut, Puner mengungkapkan bahwa dalam kehidupannya Freud asik dan memberikan perhatian besar pada bidang kejiwaan yang bersifat mistis seperti halnya teologi atau dokter. Freud berkonsentrasi untuk memetakan lahan baru “kejiwaan” menggantikan hal yang lama dengan menyebutkan istilah id, superego, dan pikiran ketidaksadaran, dan sebagainya. Hal ini menggambarkan bahwa Freud menunjukkan minat besarnya pada gejala kejiwaan manusia. Selain itu, Freud menunjukkan pemahamannya yang luas berkenaan dengan memberikan gambaran di dalam diri manusia terdapat topografi id, ego, dan super ego.
Berbeda halnya dengan yang diungkap oleh Jaques Lacan. Perbedaan pandangan antara Lacan dan Freud tampak dalam kutipan sebagai berikut:
Lacan mengambil istilah “imajiner” yang digunakan untuk semua operasi ego. Ego bersifat narsistik. Ego membuat kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri, tapi akibatnya adalah ego berfungsi mengingkari realita bawah sadar kita yang merupakan penentu terpenting dalam kehidupan kita. Seperti apa diri kita dalam perasaan terdalam kita tentang keberadaan diri kita tidak sesuai dengan apa yang kita tampilkan sebagai diri yang sadar. Tetapi ego membuat kita bisa membayangkan diri kita secara utuh dan sebagai satu-kesatuan. Ego memberi kita perasaan khayal bahwa kita teridentifikasi secara menyeluruh dengan diri sadar kita (Ryan, 2011: 136).
Dari kutipan tersebut, Lacan ingin mengungkap bahwa ego hanya membuat diri kita seolah-olah nyaman atau mencari rasa aman, tetapi menutup mata terhadap realitas yang terjadi dalam alam bawah sadar kita. Sebagai ilustrasi, seorang yang tertawa, belum tentu menampilkan keaslian dari rasa gembiranya. Ada kemungkinan tertawa tersebut digunakan oleh seseorang untuk menutup rasa sedih dalam dirinya. Hal itu mengakibatkan apa yang ditampilkan seseorang tidak mencerminkan suatu kebenaran, ketika berada dalam keadaan sadar.
Dalam psikoanalisis, pendapat Sigmund Freud dan Jaques Lacan memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaan dan persamaan antara Freud dan Lacan terletak dalam hal-hal berikut:
1.     Lacan setuju bahwa ego terbentuk dari indentifikasinya dengan figur-figur parental.
2.     Freud mengingkari dimensi-dimensi sosial dengan mengutamakan dorongan hasrat individual dan pemenuhannya, sedangkan Lacan mengakui intersubjektivitas sebagai sesuatu yang niscaya dan wajar dalam pembentukan ego.
3.     Freud menganggap ketidaksadaran sebagai suatu ancaman, sedangkan Lacan menganggap ketidaksadaran sebagai sumber kebenaran.
4.     Freud menganggap ketidaksadaran sebagai sesuatu yang substantif, sedangkan Lacan menganggapnya bukan sebagai sesuatu yang promordial atau mendasar.
5.     Freud melihat dalam kejiwaan manusia terdapat proses primer yang berkaitan dengan hasrat dan pemenuhannya dan proses sekunder yang berkaitan dengan nalar atau kesadaran. Lacan menganggap kedua proses tersebut tidak berbeda.
6.     Freud menyukai persoalan alam dan kebudayaan dengan penekanan pada dominasi kebudayaan atas alam. Lacan menganggap alam bukanlah hal yang nyata.
7.     Lacan dan Freud berbeda pandangan dalam persoalan Oedipus kompleks. Tafsiran Freud bersifat biologis dan fisikal, kemudian mempertalikannya dengan persoalan seksual, sedangkan Lacan menafsirkan secara simbolik dan mempertalikannya dengan persoalan sosial.
8.     Freud menganggap adanya kemungkinan wacana rasional walaupun selalu terganggu oleh kekuatan-kekuatan tak sadar. Lacan menganggap wacana membentuk ketaksadaran.
9.     Freud berbicara mengenai insting dan dorongan, sedangkan Lacan berbicara mengenai hasrat (Faruk, 2008: 22-24).
Pendapat Lacan mencoba memberikan gambaran bahwa dalam diri manusia ketidaksadaran dapat distrukturisasi seperti layaknya bahasa. Lacan mencoba merangkai bahasa dalam pikiran manusia, sehingga bisa ditarik sebuah simpulan bagaimana bahasa berfungsi. Namun, secara psikologi ada hal-hal yang tak dapat dirangkai dalam struktur. Pemikiran yang terkadang melompat dari satu pemikiran ke pemikiran lain menunjukkan bahwa dalam diri manusia ada pengendali dari gerak berfikir tersebut.  Sebagai bukti, seseorang yang bersedih secara tiba-tiba melupakan kesedihannya, ketika menjumpai seseorang yang sangat dirindukannya. Perubahan ini tidak begitu saja terjadi. Hal ini menunjukkan dalam diri manusia terdapat pengendali-pengendali yang mengatur seluruh gerak pikir baik secara sadar atau bawah sadar. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Freud bahwa dalam diri kejiwaan manusia terdapat tiga pengendali, yaitu id, superego, dan ego.

C.    Analisis (Kritik)
Dalam analisis psikologi yang terjadi pada tokoh Bapak dalam cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori dibagi dalam empat tahap, yaitu konsep id, konsep superego, konsep ego, dan hubungan konsep id dan konsep superego.
1.     Konsep Id
Dalam konsep ini, Edsu B. Katori berhasil menampilkan Id (pikiran bawah sadar) tokoh Bapak dengan dramatis. Yang pertama, karena merasa sangat terpukul atas meninggalnya sang istri, tokoh Bapak kerap menyendiri di teras rumahnya, sambil menyenandungkan lagu-lagu pilu, yang ia pikir bisa mengobati rasa kehilangan yang menancap di relung-relung jiwanya yang sepi. Setiap malam ia melakukan hal itu sampai menjelang pagi, ketika suara ayam terdengar.
Faktor utama penyebabnya yaitu ketidakstabilan mental bapak. Karena sejak ibu meninggal, bapak seperti kehilangan gairah hidup yang dulu terang menyala bak matahari yang mampu menularkan nyala itu kepada bulan atau pun benda-benda langit yang lain.
Diawali pada pekan kedua setelah ibunya meninggal, bapak kerap terlihat menyendiri di teras rumah pada tengah malam. Dengan pandangan mata yang kosong, bapak berusaha menyenandungkan lagu-lagu pilu sedapatnya, yang dikiranya bisa mengobati rasa kehilangan yang menancap di relung-relung jiwanya yang sepi. Seperti itulah yang terjadi setiap malam. Dan biasanya, bapak baru bergegas ke dalam rumah ketika suara ayam terdengar saling bersautan.
Dari kutipan tersebut, sangat jelas terlihat bahwa tokoh Bapak melakukan hal yang bersifat di bawah kesadarannya. Karena bagi orang yang tidak ingin kondisi kejiwaannya semakin terguncang, pasti akan berusaha bangkit dengan berpikir postif, dalam bentuk tidak menyanyikan lagu-lagu pilu. Padahal, sebelum tragedi itu, gairah hidup Bapak terang menyala seperti matahari yang mampu menularkan “sinar semangat” itu pada orang lain.
Bukti lain kemampuan penulis dalam menggambarkan id, yaitu ketika tokoh Bapak yang sangat merasa kehilangan istrinya, kerap “berdialog” dengan baju-baju istrinya di dalam kamar. Ia menata baju-baju itu di atas kasur, satu per satu tiap harinya.
Kini, setelah kebangkrutan usahanya, bapak justru makin terpuruk. Aku dan kakakku kerap melihatnya berdialog dengan baju-baju ibu di dalam kamar. Baju-baju itu ia susun di atas tempat tidur, satu per satu tiap harinya.
Kondisi semacam itu, tentu merupakan bentuk kekacauan jiwa yang sangat dalam. Tokoh Bapak yang secara lahiriah berusaha bangkit dengan merintis usaha, tetap saja rapuh secara kejiwaan. Bahkan, kondisi kejiwaan itu semakin parah dengan bukti bahwa ia berhalusinasi di alam bawah sadarnya, seolah-olah sang istri masih hidup.
Selain itu, untuk menggambarkan konsep id, tokoh Bapak melakukan tindak bunuh diri, yang secara tersirat bertujuan untuk mengakhiri “penderitaan” hidupnya. Ia merasa tidak bisa hidup tanpa istri yang sangat dicintainya.
Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku, pemandangan yang seketika mampu menghilangkan rasa kantukku menjadi tak berbekas sama sekali, pemandangan yang membuat jantungku seperti tercabut dari tempatnya, pemandangan yang membuatku ingin berteriak sekuat-kuatnya, membuat jiwaku meronta sejadi-jadinya. Tepat di depanku, aku melihat tubuh bapak tergantung kaku.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa pada akhirnya, tokoh Bapak melakukan tindak bunuh diri. Tindakan tersebut merupakan puncak dari ketidakmampuan tokoh Bapak dalam menahan kepiluan setelah ditinggal mati istrinya. Dengan kata lain, tokoh Bapak dengan hanya memahami bahwa kepiluan hatinya di dunia pasti akan sirna jika ia tidak lagi hidup di dunia. Ia tidak sadar (paham) bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan dunia, yang justru merupakan fase untuk mempertanggungjawabkan berbagai amaliah manusia selama hidup di dunia.

2.     Konsep Ego
Selain konsep id, terdapat satu tindakan tokoh Bapak dalam cerpen “Halusinasi Sendu” yang menunjukkan bahwa penulis menerapkan konsep ego dalam cerpen gubahannya. Namun sayang, tindakan tokoh Bapak dalam konsep ini, tidak digambarkan dengan jelas. Pada suatu sore, tokoh Bapak pergi ke makam istrinya, lalu pulang pada malam hari.
Secara budaya dan agama, pergi ke makam, apalagi makam orang yang sangat dicintai, bukanlah perbuatan yang tercela jika di sana tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma agama. Bahkan, pergi ke makam justru merupakan tindakan yang mulia jika diniatkan untuk (1) merapikan atau membersihkan kondisi makam, (2) mengingatkan diri sendiri bahwa suatu saat, kematian pasti akan mendatangi diri sendiri, dan (3) mendoakan orang yang sudah meninggal. Meskipun, kita bisa berdoa di mana saja, tanpa harus mendatangi makam orang yang ingin kita doakan.
Untuk lebih jelas, berikut kutipan cerpen yang menyatakan bahwa tokoh Bapak pergi ke makam istrinya pada sore hari.
Dalam kondisi bingung, kusampaikan kronologi halusinasi itu pada kakak. Kakak pun tak tinggal diam. Sore itu, ketika bapak pergi ke makam ibu, tanpa seizin bapak, kakak memaku pintu kamar bapak dan ibu dari luar. Tak hanya itu, ia pun memasang palang dari atas sampai bawah agar pintu itu benar-benar tidak bisa dibuka.
Kutipan di atas jelas menunjukkan bahwa penulis tidak menyebutkan detil tujuan baik atau buruknya tokoh Bapak pergi ke makam istrinya. Karena itu, kritikus menggolongkan tindakan tersebut ke dalam konsep ego.

3.     Konsep Superego
“Halusinasi Sendu” yang berjenis cerita tragedi karya Edsu B. Katori juga menyajikan konsep superego pada tokoh Bapak dengan cukup baik. Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki dua anak, tokoh Bapak yang masih dalam kondisi berduka setelah kematian istrinya, tetap berusaha untuk mencari nafkah dengan jalan merintis usaha, seperti pada kutipan berikut.
Hutan kecil itu telah berubah menjadi dua lajur lapak besar, sisa-sisa usaha bapak merintis bisnis kayu yang akhirnya berujung pada kebangkrutan. Bahkan ibarat bunga yang layu sebelum berkembang, usaha bapak bangkrut sebelum sempat berjalan stabil. Modal usaha itu pun habis di tengah jalan. Padahal, modal usaha itu berasal dari sisa hasil penjualan sepetak sawah yang terakhir.
Dari kutipan di atas, kita bisa mengetahui bahwa tokoh Bapak masih menggunakan nuraninya untuk berbuat sesuatu demi menafkahi keluarganya. Ia memanfaatkan “hutan kecil” yang ada di depan rumahnya untuk merintis usaha penjualan kayu. Meskipun pada akhirnya, usaha tersebut berujung bangkrut. Namun paling tidak, secara logika, sebagai kepala keluarga, tokoh Bapak sudah melakukan usaha untuk menafkahi kedua anaknya. Hal itulah yang menunjukkan bahwa penulis tetap memunculkan konsep superego dalam diri tokoh Bapak.

D.   Simpulan
Berdasarkan uraian penilaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, ditinjau dari sisi psikologi sastra, cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori dengan tokoh Bapak di dalamnya, memiliki konsep id dan superego yang baik. Dinamika kondisi kejiwaan tokoh Bapak tergambar dengan baik. Meskipun, jika ditinjau dari konsep ego, penulis tidak menggambarkan motif tindakan tokoh Bapak dengan jelas. Namun sebagai penulis pemula, Edsu B. Katori mampu menyuguhkan cerita dramatis yang menghibur.

E.    Daftar Pustaka
Freud, Sigmund. 1976. The Interpretation of Dreams. London: Pelican Books.
Freud. Sigmund. 1981. Jokes and Their Relation to the Unconscious. London: Pelican Books.

F.    Lampiran
Cerpen “Halusinasi Sendu” dapat dilihat di sini.

Baca juga: