Tuesday, 21 April 2015

CERPENKU

K E S E I M B A N G A N
Karya: Fadil Al Karsad

Tak ada yang lain dengan pagi itu, semua tampak seperti pagi biasanya. Pagi itu orang-orang dusun pergi ke sawah dengan perlengkapan di pundak dan di ujung tangan-tangan mereka. Di jalanan yang belum diaspal, beberapa anak berseragam putih merah, pun seperti biasa berjalan dengan ceria menuju sekolah mereka yang ada di ujung dusun. Di pangkalan becak yang juga ada di ujung dusun, para tukang becak pun seperti biasa terlihat asyik dengan rokok dan kopi yang mereka pesan dari warung pangkalan.
Begitu pula di jalan setapak tepi sungai, beberapa pasang kaki bersepatu hitam dan berkaus kaki putih, dengan semangat pagi di dada mereka, seperti biasa mengayuh sepeda yang kebanyakan bukanlah sepeda baru, apalagi mewah. Ban-ban kecil sepeda mereka terus berputar menggilas tanah, merebahkan rerumputan liar, dan membenamkan bebatuan kecil ke dalam tanah yang tidak terlalu keras.
Seperti biasa pula, sesampainya di jalanan dusun yang tak beraspal, para pengayuh sepeda bersepatu hitam dan berkaus kaki putih itu hanya memotong jalan, lalu kembali mengarahkan sepeda mereka ke jalan pintas yang hanya bisa dilalui jika hujan tak turun selama tiga hari. Sepeda-sepeda itu bermanufer di tikungan-tikungan, membelah persawahan, mendaki dan menuruni bukit dan jembatan, serta menyelinap di keramaian pasar. Dan persis seperti pagi pada hari-hari sebelumnya, iring-iringan sepeda itu pun memasuki area sekolah yang di pintu gerbangnya tertera tulisan berwarna biru, Tut Wuri Handayani.
Namun tak seperti biasa, salah satu pengayuh sepeda bersepatu hitam dan berkaus kaki putih itu, terlihat gelisah. Ekspresi mukanya seperti pemain sepak bola yang akan melakukan tendangan pinalti penentu kemenangan. Dialah Slamet Sugiarto, anak pendiam dengan kemampuan akademik yang juga diam. Hati anak kampung yang lebih suka dipanggil Sugi itu seperti sedang bertaruh. Rasa hatinya tak menentu karena hari itu merupakan hari pembagian rapor semester keempatnya di SMP.
Di rapor itulah, di atas tanda tangan kepala sekolah, ia akan menyimak dengan seksama sebaris kalimat yang isinya akan sangat menentukan kelanjutan nasibnya di sekolah itu: naik ke kelas tiga, tetap tinggal di kelas dua, atau sama seperti tahun sebelumnya, yaitu naik kelas namun dengan masa percobaan tiga bulan.
Maka tak muluk dan tak banyak yang bisa ia harap dari rapornya kala itu. Ia sadar, jangankan bisa menjadi yang terbaik di kelas, bisa naik kelas dengan nilai standar saja, ia rasa itu sudah lebih dari cukup. Karena baginya, meski hanya naik kelas dengan nilai standar, predikat itu masih jauh lebih mulia daripada harus dinyatakan naik kelas namun dengan masa percobaan.
Yah, itulah Sugi, si anak manja yang kemampuan akademiknya seperti berbanding terbalik dengan kemampuan sang kakak. Selama sekolah, tak pernah sekali pun ia mampu mencatatkan namanya dalam deretan sepuluh siswa terbaik di kelas.
Dengan teman-teman SD-nya saja, ia takluk. Padahal, SD-nya dulu hanyalah SD kampung yang kemampuan dan minat belajar para siswanya pun hanyalah rata-rata. Maka sepanjang riwayatnya di sana, tak pernah ada satu piala dari lomba apa pun yang sudi mampir ke sekolah pinggiran itu.
Sampai-sampai, salah satu wali kelasnya dulu merasa kagum dengan kesederhanaan dan kebersahajaan mereka dalam berprestasi. Ah, sungguh penuh ironi.
Sementara di SMP yang asal siswanya dari satu wilayah kecamatan, kemampuan para siswanya tentulah tak serupa dengan teman-teman SD-nya dulu. Daya saing terasa sangat tinggi di SMP. Maka dengan bekal kemampuan yang ada, selama dua semester awal di SMP, ia hanya mampu menorehkan sebaris kalimat tragis di rapornya, Naik ke kelas dua dengan masa percobaan TIGA bulan.
Namun dengan segenap kemampuannya, ia tetap berusaha melakukan yang ia bisa. Ia lakukan itu bukan untuk dirinya, melainkan demi orang tuanya, demi ayah yang ia banggakan, dan demi ibunya tercinta yang sedang sakit.
¯¯¯

Jam dinding di kelas menunjukkan tepat pukul sepuluh ketika seorang guru yang membawa setumpuk rapor, memasuki sebuah kelas berlantai tegel. Dialah wali kelas Sugi yang setelah menjawab salam kelas, langsung memberi pengantar sebelum mengumumkan peraih sepuluh besar, dan membagikan rapor.
Dalam pengantarnya, ia menyampaikan bahwa rata-rata nilai semester kala itu menurun drastis dibanding nilai semester sebelumnya. Seketika, keheningan pun tercipta. Beberapa pasang kelopak mata siswa yang biasanya menjadi pelanggan peraih sepuluh besar, turut layu. Kepala mereka tertunduk. Aura optimisme di kelas itu pun perlahan menguap.
Sementara Sugi, ia tidak hanya tertunduk dan mengheningkan cipta dengan mata memejam kuat. Tangannya yang seketika menjadi dingin dan bergetar, pun harus ia selipkan di antara kedua lututnya yang merapat untuk mengurangi getaran tubuhnya. Napasnya berpacu tak tentu hirup dan embusnya. Ia kritis.
”Tapi tenang saja! Kalian, se-mu-a-nya, dinyatakan naik kelas tanpa kecuali, dan tanpa ada catatan masa percobaan satu hari pun. Pokoknya semuanya naik kelas. Tidak ada satu pun di antara kalian yang harus tinggal kelas. Aman.”
Ucapan sang wali kelas tak serta-merta membuat kebekuan kelas mencair. Beberapa siswa hanya mengangkat kepala, lalu saling toleh tanda tak yakin. Mereka menganggap ucapan itu hanya sebagai bentuk diplomasi sang wali kelas yang telah menurunkan mental mereka dengan membanding-bandingkan nilai yang telah mereka raih. Namun dengan cepat, sang wali kelas pun langsung menyebutkan nama-nama peraih peringkat sepuluh besar, seolah mengabaikan kebingungan para siswanya.
Seperti biasa, ia menyebutkan nama-nama peraih peringkat terhormat itu mulai dari peringkat sepuluh. Dan seperti biasa pula, nama-nama yang disebutkan dari peringkat sepuluh sampai peringkat lima, bukanlah nama-nama baru dalam ajang peraihan peringkat sepluluh besar. Semua nama yang disebutkan seperti sudah menjadi pelanggan tetap dalam perolehan peringkat sepuluh besar di kelas itu.
Namun ketika memasuki peringkat empat besar, tiba-tiba sang wali kelas berfalsafah tentang keseimbangan dalam hidup yang tak biasanya ia sampaikan. Menurutnya, kalau ada siang, pasti ada malam. Kalau ada kanan, harus ada kiri. Kalau muncul suka, datang pula duka. Dan kalau pun pada semester itu banyak nilai yang menurun, ternyata ada juga nilai yang naik meski tidak terlalu tinggi.
”Itulah keseimbangan,” pungkasnya sambil tersenyum lebar. Dan selama beberapa detik, senyum itu jelas tertuju pada Sugi, hanya kepada Sugi. Maka seperti tersengat listrik, jantung Sugi pun berdetak begitu kencang. Ia kaget dan gugup. Apakah itu pertanda bahwa dialah peraih peringkat empat itu?
Ah, kalau pun benar ia meraih peringkat empat, pikiran piciknya cekatan berkata bahwa mungkin saja itu karena guru-gurunya mulai pikun atau pun terkena wabah katarak akut sehingga salah menuliskan angka untuk nilai-nilainya. Atau, asumsi sempitnya gesit menaksir kalau waktu itu sekolahnya sedang mengadakan program pemberdayaan siswa-siswa pasif. Sehingga sebagai langkah awal, ia yang menjadi salah satu targetnya, diberi motivasi dengan bonus nilai yang lebih tinggi dari yang semestinya.
Namun belum selesai ia mencari berbagai celah ketidakmungkinannya mendapatkan perigkat empat itu, antara sadar dan tidak, ia mendengar suara wali kelasnya menyebutkan namanya.
Ranking empat, Slamet Sugiarto.”
Sekonyong-konyong, Sugi pun terperanjat. Matanya melotot. Kedua bibirnya yang semula mengatup menahan gelisah, menjadi sedikit terbuka selama beberapa saat ketika mendengar namanya disebut sebagai peraih peringkat keempat. Ia benar-benar terkejut.
Meski begitu, jelas sekali keterkejutannya bukan karena rasa senang yang seketika datang memuncak begitu mendengar namanya disebut sebagai peraih peringkat keempat. Hatinya justru panas. Wajahnya memerah, marah.
Dengan disebut sebagai peraih peringkat keempat, ia merasa sedang dipermainkan. Logikanya terlalu cebol untuk menalar transformasi predikat naik kelas bersyarat menjadi peraih peringkat empat. Benaknya mengumpat, mempertanyakan penurunan rata-rata nilai yang terjadi secara drastis, yang sebelumnya diucapkan sendiri oleh wali kelasnya.
Ah, sama sekali ia tak menyangka kalau wali kelasnya yang sebenarnya ia idolakan, bisa bercanda sampai sejauh itu. Keterlaluan. Baginya, urusan peringkat itu urusan yang nyata menyangkut harga diri, bukan perihal sepele yang bisa dipercandakan.
Maka dengan segenap emosi, ia beranikan dirinya menatap wajah wali kelasnya yang masih mengumbar senyum. Tapi yang terjadi, yang ia tatap malah kian tersenyum dan mengangguk penuh pesona sembari menegaskan kembali nama peraih peringkat keempat yang sebelumnya ia sebutkan.
”Yah, ranking empat, Slamet Sugiarto.”
Mendengar itu, ekspresi wajah Sugi menjadi sedikit sulit untuk dilukiskan. Gigi-giginya jelas masih beradu, pertanda ia masih kesal. Namun rona merah wajahnya yang semula memendam amarah, berubah menjadi merah tersipu malu, persis seperti anak kecil yang pura-pura menolak diberi uang atau pun mainan karena malu pada teman-temannya. Padahal hatinya, memang sangat mengharap pemberian itu.
¯¯¯

Sugi keluar dari kelasnya dengan senyum mengembang dan dada terbusung. Kedua kakinya terayun pasti menyusuri teras kelas menuju tempat parkir sepeda siswa. Di sana, pasukan bersepeda yang tak lain teman-teman sekampungnya, terlihat sudah menunggu. Namun dalam imajinasinya, ia merasa seperti pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang dengan kemenangan di tangan, yang kemudian disambut oleh kaumnya dengan rasa kagum dan bangga yang membara. Tak pelak, ia pun makin jadi mengobral senyum.
Di sepanjang jalan, di atas sepedanya, ia pun masih tetap tersenyum. Tak henti-hentinya ia membayangkan reaksi ayahnya setelah melihat rapor yang telah mengantarkannya sebagai kuda hitam di kelasnya. Dalam bayangannya, ayahnya akan menepuk-nepuk pundaknya dengan rasa bangga tiada terkira. Bagaimana tidak? Selama delapan tahun ia sekolah, tak pernah sekali pun si bungsu kolokan itu masuk peringkat sepuluh besar di kelasnya. Jangankan mendapat peringkat sepuluh besar, satu tahun sebelumnya saja, kenaikan kelasnya harus dengan syarat tiga bulan masa percobaan.
Namun hari itu, ia telah berhasil menorehkan tinta emas dalam catatan sejarah hidupnya. Ia berhasil masuk peringkat sepuluh besar di kelasnya. Bahkan seolah tak mau basa-basi, ia seperti berlari cepat, lalu langsung melompat menuju anak tangga keempat dari atas.
Ah, Sugi! Bocah yang usianya belum genap empat belas tahun itu benar-benar larut dalam euforia kemenangan, euforia keajaiban. Raganya seperti melayang di atas sepedanya. Batang-batang turi yang bergoyang tertiup angin, ia rasa seperti sedang memberi hormat kagum kepadanya. Bahkan awan putih yang samar tersiram sinar matahari, ia rasa seperti sedang memayungi dirinya dari siang kemarau yang panas.
Dan sesampainya di halaman rumah, ia langsung bersalam tanpa memastikan bahwa sepedanya telah tersandar di pagar-hidup rumahnya dengan baik. Ia terlihat begitu tak sabar ingin segera memamerkan rapor fenomenalnya itu pada ayah dan ibunya.
Sang ayah pun menjawab salamnya tak lama berselang. Suara jawaban salam itu jelas terdengar dari dalam kamar. Di sana, Sugi memastikan kalau ayahnya sedang menunggui ibunya, pelita hatinya yang meski perutnya seperti perut orang hamil akibat liver yang membengkak, tetap saja bekerja layaknya ibu rumah tangga yang masih segar bugar. Ironisnya, sang ibu tetap saja menolak keras untuk dioperasi di rumah sakit lantaran rasa takut yang berlebihan. Padahal menurut mantri kesehatan yang pernah menangani ibunya di puskesmas, tidak ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit itu, selain harus dioperasi.
Namun ibunya tetaplah ibunya. Dengan hanya bermodal firasat, ibunya merasa yakin bahwa pasti ada cara lain selain operasi, yang bisa menyembuhkan hepatitis B yang menyerang livernya.
Sang ayah pun mengalah. Ia sudah berusaha membawa wanita yang selama dua puluh empat tahun telah menjadi pendamping hidupnya itu untuk berobat ke berbagai tempat pengobatan alternatif yang konon bisa mengobati bermacam jenis penyakit tanpa operasi. Tak peduli seberapa pun jauhnya jarak tempat pengobatan itu dari rumahnya, pasti ia tuju. Tak peduli meski harus kehilangan berpetak-petak sawah demi biaya pengobatan istrinya, tetap ia lakukan. Semua demi kesembuhan sang istri.
Namun dari semua itu, tetap saja tak ada hasil seperti yang diharapkan. Maka pelan tapi pasti, liver istrinya terus membengkak hingga perutnya serupa dengan perut wanita yang hamil tua, bahkan lebih besar dari itu.
¯¯¯

Sugi mengambil rapornya dari dalam tas sambil melangkah penuh senyum menuju kamar ibunya. Ia sengaja tak berkata apa pun selain salam. Ia ingin ayah dan ibunya melihat sendiri rapor itu. Ia ingin melihat reaksi spontan ayah dan ibunya begitu tahu prestasi terbaiknya selama delapan tahun belajar di sekolah. Ia ingin mereka terkejut.
Namun belum sempat ia melangkah masuk ke kamar ibunya untuk memberi kejutan, ia justru terkejut ketika mendengar suara ibunya yang seperti tersedak lalu memuntahkan sesuatu. Sesegera mungkin, ia pun mencoba melihat yang terjadi pada ibunya.
Maka setelah pandangannya terarah pada sosok sang ibu, seketika itu pula ia kaget tak kepalang. Cairan setengah kental berwarna merah kelam terhambur di lantai dekat ranjang. Ibunya muntah darah.
Sugi merinding, lemas seketika. Pikirannya gelap melihat darah yang terhambur sebegitu banyak. Ia sangat takut kalau-kalau terjadi hal yang buruk pada ibunya. Rapor yang semula ingin ia perlihatkan kepada ayah dan ibunya, terjatuh begitu saja tanpa terasa. Ia terduduk gemetar di lantai.
Suara sang ayah yang memintanya pergi ke rumah pamannya agar pamannya segera mencarikan mobil sewaan untuk membawa ibunya ke rumah sakit, hanya terdengar lamat-lamat di telinganya.

¯¯¯